“Aku melakukan ini, semuanya untuk keluargaku.”

Wow. Mulia sekali ya jadi seorang ibu.
Mengurangi jam tidurnya supaya pekerjaan rumah bisa selesai.
Bangun paling pagi, tidur paling malam. Dari dapur, mengurus kebutuhan anak dan suami, sampai pekerjaan buruh di luar rumah pun dilakukannya. Kamu itu seorang ibu, kamu pasti bisa, kamu itu kuat, katanya.

Ada ibu yang pakai baju itu-itu saja. Seperti seragam sekolah, dari Senin sampai minggu, pagi dan malam, hanya baju itu saja yang dikenakannya. Sebaliknya, lemari suami dan anak-anaknya selalu penuh dengan fashion terkini. Sayang suami, sayang anak, katanya.

Mengalah supaya anaknya bisa makan lebih banyak kue - yang ternyata adalah kue kesukaan ibunya. Dan si Ibu hanya bisa tertawa padahal jarang sekali dia bisa makan kue itu karena memikirkan keuangan keluarga. Tak apalah mengalah, yang penting anak senang dan sehat, katanya.

“Kenapa sih berhenti S2, padahal kan sudah dapat beasiswa?”
“Aku sudah punya suami dan anak. Lebih baik mengurus mereka saja.”

“Lho, kok tawaran dari perusahaan multinasional itu kamu tolak? Gak sayang apa? Gajinya besar lho!”
“Aku takut jam kerjanya gak fleksibel. Nanti suami dan anakku ga ada yang urus.”

“Kemana desain-desain interiormu yang dulu saat kuliah selalu dipuji dosen-dosen itu? Sayang sekali bakatmu tidak dilanjutkan?”
“Gak apa-apa. Nasib berkata lain. Aku sekarang ini sudah nikah dan punya anak."

Mengapa selalu ada alasan untuk orang lain?
Mengapa seorang ibu tidak boleh punya alasan untuk.... dirinya sendiri?



Source : Drama Go Back Couple (2017)

Butuh waktu setidaknya 8 bulan sampai aku akhirnya bisa menuliskan halaman pertama di blog ini. Ya, 8 bulan. 
Kalau Papa Mochi, nanya mengapa blogku belum ada isinya - padahal dia yang sudah bayarin domainnya, jawabku sama, “Belum sempat. Aku terlalu sibuk ngurusin yang lain, kerjaanku dan rumahku.”

Aku pernah punya blog. Dulu, saat aku SMA. Tulisanku banyak. Ratusan. Banyak temanku yang bilang mereka suka tulisanku. Senang rasanya kalau ada yang memuji dan bilang terima kasih karena tulisanku. Aku bahkan sempat punya beberapa teman pena karena blogku itu. Lama kelamaan, aku merasa menulis itu adalah kewajiban. Aku punya beban yang harus kubagikan. Menulis untuk mereka.
Entah kapan, seseorang memberikan komentar miring yang membuatku jadi minder. Aku jarang menulis sejak itu. Malu. Satu komentar, berhasil membuatku melupakan tujuan dan passion-ku.

Aku berpikir, menulis itu untuk menyenangkan orang lain.

Saat ingin kembali menulis blog, aku tak punya ide sama sekali tentang apa yang akan kutulis. Ah, tulis soal parenting aja. Soal anak-anak. Soal menikah, pikirku.

Pikiranku terjebak di dalam kotak, hanya karena kini aku seorang ibu.

Blog yang kosong, tidak pernah cukup ide untuk menulis.
Bingung, widget mau diisi apa.
Berulang kali ganti header image supaya terlihat sebagai tulisan blog dari ibu yang inspiratif.
Progress 8 bulan nihil.
Menulis blog menjadi tidak menyenangkan.
Bahkan aku sempat berpikir mungkin memang passionku bukan menulis.
Aku tak pantas memulai blog lagi, karena ya memang aku tidak bisa menulis.

Dini hari ini, seusai memberikan susu ke Adik Mochi, aku terdiam melihat kedua anakku dan suamiku yang masih terlelap.

“Mengapa aku harus menulis untuk mereka?”
“Tidak bolehkah aku menulis blog ini... hanya untuk diriku sendiri?”

Aku sadar. Alasan “untuk mereka” itu adalah bentuk keegoisanku. Aku ingin dipandang “hebat” oleh orang sekitarku.

Itulah kenapa blogku tidak pernah dimulai.
Mandek. Berat. Beban. Menulis dihitung sebagai sebuah pekerjaan hanya karena kini aku seorang ibu.

Menulis menjadi tidak menyenangkan.
Sebab aku tidak melakukannya untuk diriku.

Jakarta, 2 May 2020, 03:26.
Ditulis dari smartphone-ku. Draft. Tapi pasti ku-published. Jika kalian sempat mampir, blogku masih berantakan. Tak apa, setidaknya aku sudah mulai.

Selamat datang di blogku!
Semoga suka. Semoga kamu belajar sesuatu dari blog ini.

Kali ini aku bisa bilang akhirnya aku kembali menulis.

Kali ini, untuk diriku sendiri.