Tuesday, August 18, 2020

"Apa sih rasanya lahiran?"
Seorang teman kerja bertanya pada Mama Mochi ketika jam makan siang. Apa rasanya lahiran? 
Sebuah proses kehidupan yang hanya bisa dirasakan oleh seorang wanita pada saatnya. Menikah, 9 bulan kehamilan, dan dalam hitungan jam, mengemban tugas atas sosok kecil bernama anak.

"Kalau nanya gue, gue akan selalu jawab : lahiran itu cuma proses. Yang lo harus lakukan itu, siapin segala sesuatu hingga siap pada waktunya."

Apa saja itu?
1. Siapin hati dan mental. 
Terima kenyataan kalau hidupmu tak akan pernah sama lagi. Browsing soal kehamilan, jangan lupa soal pilihan melahirkan. Normal vs Sesar, perdebatan yang tidak akan pernah ada habisnya, sama seperti pilihan seorang ibu untuk hal-hal lain di tahun-tahun berikutnya.
Sewaktu hamil anak pertama, Mama Mochi langsung memutuskan mau melahirkan secara normal. Ada 2 hal utama yang membuat Mama tidak memilih operasi sesar sebagai proses melahirkan. Satu, karena Mama takut rumah sakit, dokter dan operasi. Membayangkan operasi sesar saja sudah takut duluan. Apalagi dengar cerita dari teman-teman yang habis operasi sesar, rasanya disuntik dengan jarum besar dan rasa sakit masih tinggal berhari-hari setelah melahirkan. Salut sama mereka yang berani lahiran operasi sesar (orang yang milih operasi sesar juga pasti mikir hal yang sama ke orang yang lahiran normal. We are all same, actually). Dua, masalah biaya. Tahukah kamu kalau lahiran normal itu 50-70% lebih murah daripada operasi sesar? Buat Mama dan Papa Mochi yang waktu itu baru pindah kerja dan masih nabung untuk beberapa hal, mengeluarkan uang untuk operasi sesar nampaknya bukan pilihan. Sebisa mungkin, biaya melahirkan tidak melebihi yang ditanggung kantor Mama Mochi. Hati dan mental diniatkan, alhasil benefit dari kantor Mama bisa menanggung biaya lahiran, sekaligus biaya sunat Koko Mochi.

2. Cari tahu resikonya (bukan nonton video melahirkannya!).
Kalau lahiran normal, apa saja benefitnya, resikonya? Kalau lahiran sesar, apa saja benefitnya, resikonya? Kondisi apa yang mengharuskan seorang ibu harus memilih lahiran normal, mengapa ibu harus melakukan sesar? Ada kasus dimana ibu tidak bisa melahirkan normal karena kondisi matanya. Ada yang ingin sesar, tapi sudah keburu kontraksi, air ketuban pecah, tahu-tahu bisa lahiran normal. Selalu siapkan hati untuk segala kemungkinan. Mama tidak menyarankan para ibu hamil untuk menonton video melahirkan karena akan membawa rasa takut yang berlebihan (kecuali kalau kamu orangnya lempeng ya). Jangan lupa, selalu konsultasikan kondisimu dengan obgyn masing-masing ya!



3. Kenali tubuhmu, jiwamu, dan mentalmu. 
"Gimana kalau mau lahiran sesar, tapi teman nyinyir kenapa gak lahiran normal aja?"
Jawab aja : "Emang lo nemenin gue lahiran?"

Ingat : HANYA KAMU YANG TAHU KEMAMPUAN DIRIMU SENDIRI!
Buat temanmu yang bisa lahiran normal, good for her. Tapi kalau pilihanmu sesar, siapa yang dapat melarang? Ketika kamu lahiran, yang berjuang itu dirimu (dan bayimu) sendiri. Meski disitu ada dokter, bidan, suami, dan orang tua yang menemani, tapi yang merasakan sakitnya, yang merasakan susahnya, itu dirimu sendiri, bukan nyinyiran temanmu.
Putuskan proses seperti apa yang tubuh dan hatimu siap dengan segala resikonya.

Sewaktu memutuskan melahirkan normal, Mama sudah siapkan semuanya. Mulai dari doa Rosario, doa kesesakan, doa pasrah, ikut senam hamil ga bolos, jalan kaki berkilo-kilo meter, dan segala proses yang memperlancar kelahiran. Apa daya, obgyn Mama itu tipe yang tidak mau 100% bilang kalau Mama bisa lahiran normal. Obgyn Mama maunya kita selalu siap dengan segala kemungkinan. Karena sudah niat lahiran normal, bisa aja tiba-tiba jadi sesar.  Apalagi waktu 7 bulan, kondisi bayi di perut Mama waktu itu kelilit satu dan gak bisa turun ke panggul. Kemungkinan sesar selalu ada. Tapi Mama percaya kalau Mama pasti kuat dan bisa lahiran normal. Create your own positive vibes and positive minds. Jangan pikirin orang lain. Mereka gak ada disana waktu ketubanmu pecah. Ingat itu!

4. Rasa takut itu normal, dan itu tidak apa-apa!
"Ah lebay lo! Masa gitu aja takut?"
Hei! Takut itu manusiawi dan itu tidak apa-apa. Kalau kita takut melahirkan, itu wajar. Siapa yang tidak takut menghadapi sesuatu yang belum pernah dilalui, bahkan harus dihadapi seorang diri?
Takut itu boleh, supaya kita jadi lebih berhati-hati dalam memutuskan pilihan. Takut itu boleh, supaya kita siap dengan segala kemungkinan.
Tapi jangan biarkan rasa takut itu membuatmu berhenti. Jalani dan hadapi.

"Jadi, sakit ga lahiran?"
Ya sakit lah. Tapi lebih sakit hati Mama waktu anak sakit dan malas makan.
Tetapi ketika sang bayi keluar dari perutmu, menangis, dan kau peluk, semua rasa sakit itu akan hilang digantikan oleh kebahagiaan.

Jangan takut melahirkan (normal ataupun sesar)!
Melahirkan itu cuma satu dari sekian proses menjadi ibu dan itu akan segera berlalu...





Thank you :) I want to hear more from you. Follow me @yurikasuhalim, and we can discuss about it.

Mama Mochi . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates