Tuesday, August 11, 2020

 Apa rasanya menikah?

Waktu kecil, Mama Mochi pernah mimpi buat nikah di usia muda, punya anak 11, punya rumah besar, and live happily ever after. Klise ya, sama seperti mimpi (kebanyakan) anak perempuan lainnya yang waktu kecil tontonannya Disney atau banyak baca komik.

Bagi sebagian wanita, menikah berarti melayani suami. Waktu awal menikah, Mama juga sama seperti kebanyakan wanita. Bangun pagi, menyiapkan sarapan, menyiapkan keperluan suami. Oh, ternyata itu bukan keahlian Mama. Ketika hamil Koko Mochi, semua buyar begitu saja.

Kenyataannya?

Menikah tak semudah itu. Proses untuk mencapai tahap itu saja sudah cukup sulit. Mencari pasangan hidup, itu cerita lainnya.

Papa Mochi itu pacar pertama Mama Mochi (dan terakhir tentunya). Terpaut usia hampir 9 tahun, bikin banyak orang bingung kenapa Mama pilih Papa Mochi. Kami memutuskan (akan) menikah tepat ketika hari pertama pacaran. Bertemu 2012, pacaran 2013, menikah 2016. Butuh waktu 1 tahun sebelum Mama Mochi yakin (sepertinya akan) menikah dengan Papa Mochi. Dan 3 tahun proses yang cukup sebelum kami benar-benar mengikat janji di depan altar.

Ketika menikah, kami dihadapkan pada situasi baru, adaptasi baru, belajar hal-hal baru. Banyak hal yang Mama Mochi baru tahu ketika menikah. Apalagi, ketika itu kami langsung diberkati dengan hadirnya Koko Mochi. Semua berjalan cepat, bahagia, tapi tetap ada gajlukan dan bolong di sana-sini.


Menikah berarti mengikat dirimu pada masalah yang akan dihadapi seumur hidup.

Kalau kata peruntungan Chinese, terpaut usia 9 tahun itu tidak baik. Shio kami pun ciong. Katanya, akan banyak ganjalan, terutama di bidang keuangan. Dan saat proses pengenalan dengan Papa Mochi, Mama sudah tahu banyak soal kondisi keuangannya dan apa yang akan kami hadapi ke depannya. Itulah kenapa penting untuk tahu kondisi keuangan calon pasanganmu. Jelas, karena keuangan juga menjadi salah satu alasan yang bisa memicu perceraian. Bukan matre ya, tapi sejauh mana kamu dapat menerima sifatnya dalam mengelola keuangan. Bagaimana kalian akan membagi penghasilan dan pengeluaran? Semua manusia punya sifat serakah dengan uang, masing-masing dari kami juga begitu. Bisa tersinggung perkara uang yang tidak seberapa.

Menikah adalah KOMITMEN seumur hidup.

Kami menikah secara Katolik dan haram hukumnya akan perceraian. Mama Mochi tidak akan pernah lupa ketika tahap Kanonik. Mama berhadapan dengan Romo yang tidak banyak bertanya, tapi sekali bertanya langsung ke situasi pahit pernikahan.

"Bagaimana kalau suatu hari, pasanganmu selingkuh. Apa yang kamu lakukan?"

Jawaban Mama? Diam. Beberapa detik kemudian, menangis membayangkannya. Memaafkan, nampaknya menjadi sesuatu yang sulit dilakukan. Perceraian, tentu mustahil dilakukan.

Mama sampai sekarang tidak tahu apa yang akan Mama lakukan seandainya itu terjadi. Mama berdoa semoga itu tidak akan terjadi. Tapi jikalau itu harus terjadi, Mama berdoa supaya Tuhan berikan Mama kekuatan dan hati yang besar untuk menghadapinya.

Siapkah kamu ketika pasanganmu selingkuh?

Menikah berarti bersama, selamanya. Berdua. 

Anak akan pergi. Anak adalah berkat yang tidak bisa kita pilih. Tapi pasangan tidak. Pasangan adalah pilihan. Seumur hidup, kita akan bersama berdua. Itulah mengapa mencari pasangan hidup tidak bisa sembarangan. Waktu pacaran, Papa Mochi pernah bilang sama Mama, "If you can survive, then we can survive." (Jika kamu bisa bertahan, maka kita akan bertahan).

Sederhana. Tapi selalu jadi pegangan kami ketika menghadapi masalah. Jika salah satu dari kami menyerah, maka tidak ada gunanya. Kami kuat karena bersama. Hadapi bersama. Itulah kenapa pasangan hidup menjadi penolong yang sepadan bagi satu sama lain. Melengkapi. Support. Tidak meninggalkan satu sama lain. Tidak meninggikan, tidak menjatuhkan satu sama lain.

Menikah adalah sebuah proses penerimaan tiada akhir.

Ketika menikah, jangan harap pasanganmu akan berubah sesuai keinginanmu. Dia akan begitu, hingga dia mendapatkan prosesnya sendiri.

Sebelum memutuskan pacaran, seorang teman pernah berkata ke Mama, "Lo nunggu datang yang 100%, tapi lo melewatkan yang 70%. Lo juga ga 100%. Kenapa ga bareng-bareng melengkapi dan jadi 100%."

Papa Mochi bukan yang paling sempurna dari gambaran ideal Mama akan seorang pasangan hidup. Tapi dia menjawab semua list paling dasar, terutama iman dan sikap pada keluarga. Menikah, berarti menyerahkan doa dan harapanmu kepada Tuhan, dan percaya DIA akan penuhi segalanya.

Menikah adalah keputusan.

Mama percaya, tidak ada pernikahan yang salah. Yang ada hanyalah proses pencarian pasangan hidup yang belum tepat. Menikah adalah keputusan bersama, yang (harusnya) sudah diketahui baik buruknya.

Ada satu lagu yang Mama suka. Judulnya Marriage Prayer. Lagu itu menjadi gambaran bagaimana seharusnya kita lebih percaya dan cinta kepada Sang Pencipta, ketimbang pasangan kita. Dengan mencintai Tuhan, kita akan punya hati yang besar untuk mencintai pasangan. Pasangan pasti salah, begitupun kita. Tapi cinta Tuhan tidak. Cinta Nya yang akan melengkapi dan menguatkan kita sampai kelak kita bertemu dengan Nya.

Menikah itu tidak menakutkan. Tidak merepotkan, tidak membatasi, tidak membawa penderitaan. Pernikahan seharusnya menjadi perjalanan yang menyenangkan, asalkan bersama seseorang yang tepat.

Masih takutkah untuk menikah?


Thank you :) I want to hear more from you. Follow me @yurikasuhalim, and we can discuss about it.

Mama Mochi . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates