3 HAL YANG HARUS DILAKUKAN DI USIA 30


Mama Mochi 15 Apr

 
"Real life starts at 30. The first 30 years are just warm-up."
Beberapa orang bilang kalau hidup baru dimulai ketika kita berumur 30. Butuh setidaknya 3 dekade lamanya sampai kita mengerti tujuan hidup kita, siapa diri kita, dan kemana kita akan melangkah. 30 tahun mengenal kehidupan, hingga kita sampai di titik untuk memutuskan.

Disinilah saat kita mengetahui siapa diri kita. Apa yang bisa kita banggakan dan siapa yang selalu ada bersama kita. Disini juga kita berhenti untuk menyenangkan orang lain - sebab kita tahu, kita tidak hidup untuk mereka. Our life matters

Tak bisa dipungkiri juga, banyak hal sudah kita lewatin ketika menginjak kepala 3. Kenakalan masa remaja, kelabilan mental, kegalauan akan hal-hal yang.... mungkin kalau diingat hanya membawa canda tawa. Ketakutan-ketakutan masa lalu, pencapaian-pencapaian, dan segala penyesalan telah mengajarkan kita sesuatu yang menjadikan kita di masa sekarang.

Beberapa hari sebelum berusia 30, Mama merasa menjalani hari-hari yang berat. Menjadi dewasa ternyata sulit. Banyak masalah yang kadang kita sendiri bingung untuk menyelesaikannya. Ada tanggungan yang akan selalu dibawa, tapi ada pula kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang nampaknya tidak pantas untuk dikorbankan hanya karena ego semata. Karena itu, di titik baru ini, Mama mau memulai semua dengan langkah baru. Menetapkan hati untuk langkah beberapa tahun ke depan, menjadi serius atas apa yang sudah dimulai, dan memperbaiki apa yang selama ini tidak disukai. Contoh nyatanya? Mari kita berberes halaman blog dan Instagram - yang mungkin selama ini gak pernah ada konsepnya :)

1. Mulailah Berbangga Diri
Sebagai seorang ibu, Mama sadar kalau kita mungkin jadi pribadi yang lebih rendah diri ketika menikah, hamil, dan punya anak. Menghadapi stereotype ketika masuk ke fase kehidupan baru tidaklah mudah. Dicap sebagai ibu yang gak sayang anak hanya karena kasih susu formula ketimbang ASI, dicap sebagai istri yang gak perhatian hanya karena gak pernah urus bekal suami, atau dicap jadi beban di kantor hanya karena harus pulang atau tidak bisa bekerja karena urusan keluarga. 

Ada titik dimana Mama merasa malu atas diri sendiri. Apalagi kalau udah buka social media, isinya racun pikiran dan ujung-ujungnya malah jadi nyalahin diri sendiri. 
"Dulu perasaan si A cuma ini deh, sedangkan aku punya prestasi tinggi. Tapi kok, sekarang kebalikannya?"
"Duh, coba dulu gak nikah cepet-cepet, pasti sekarang udah bisa kayak si B.."

Padahal, banyak orang juga yang melihat Mama sebagai pribadi yang membanggakan, tapi Mama gak bisa melihat itu sebelumnya. Mama pernah dapat penghargaan Wonder Woman di kantor karena banyak rekan kerja yang menilai Mama sebagai wanita yang strong. Bisa performed well, tapi juga bisa ngurus keluarga dan anak-anak yang masih batita. Banyak orang melihat kelebihan kita, tapi sebagai ibu, kadang yang kita lihat hanya kesusahan kita. 

Jadi, yuk, mari kita puk-puk diri sendiri. Lihat cermin setiap hari dan bilang "Terima kasih. You are doing great!" Kalau orang lain aja bangga sama kita, kenapa malah kita yang minder?

2. Selalu Bersyukur
Kedengarannya klise banget yah. Disuruh bersyukur setiap hari, setiap waktu. Kadang pengennya marah-marah doang, pengennya minta-minta terus, tapi kadang lupa menghitung berapa banyak berkat yang kita punya. Bisa berumur kepala 3 itu sudah berkat yang luar biasa. Punya rumah (meski nyicil) dan punya pekerjaan yang baik, juga merupakan berkat luar biasa. Ada satu hal yang selalu Mama pegang, "Ketika setia pada perkara kecil, maka perkara besar akan ditambahkan padamu."
Kalau sekarang saja tidak bisa bersyukur akan sesuatu yang kecil, gimana mau dipercaya untuk sesuatu yang besar?

3. Jangan Diam, Bergeraklah!
Berantem sama suami pasti hal yang biasa dalam rumah tangga. Pernah suatu hari, Papa Mochi kesal sama Mama Mochi. Mama Mochi juga kesal, kenapa coba dianggurin dan dikasih manyun sepanjang hari. Pas malam mau tidur, Papa Mochi akhirnya bilang kenapa dia kesal. Soalnya Mama terus-terusan mengulangi masalah yang sama - yang sebelumnya pernah ditegur Papa Mochi dan Mama janji gak akan ngulangin lagi. Di saat itu, Papa Mochi bilang, "Percuma bilang maaf kalau masih kamu ulang terus. Yang Papa perlu itu, perbaiki!"

Deg. Seketika kalimat itu masuk ke hati Mama. Beberapa hari gak bisa hilang dari pikiran. Hingga Mama sadar, beberapa tahun ini banyak banget hal yang Mama diamkan, ibaratnya ditaruh, disumpel di sudut terkecil supaya gak kelihatan. Akhirnya numpuk dan meledak. Padahal, seperti Papa Mochi bilang, Mama cuma butuh 1 hal. Bergerak, perbaiki dan mulai kembali.

30 tahun bukan waktu yang singkat. Jika ada kesempatan, mungkin kita masih dikasih 30 tahun lagi untuk menjalani hidup. Mama gak mau hidup Mama jadi sia-sia. Gak perlu lagi peduli kata orang. Jalani kemana hatimu berada. Jadikan hal itu sesuatu yang membanggakan (dirimu), bersyukur senantiasa, dan teruslah bergerak. Menjadi seorang ibu, bukanlah akhir dari perjalananmu. Menjadi ibu, berarti kamu sedang berjalan ke titik yang baru. Kamulah contoh terbaik yang akan dilihat anak-anakmu kelak. Katanya, beberapa tahun lagi, dunia akan diatur oleh wanita-wanita kuat, lho! Yuk, jadi bagian dari salah satunya :)

Jangan kebanyakan mikir. Kalau kata toko sebelah, #MulaiAjaDulu.

Comments

Popular posts from this blog

MENGAJARKAN ANAK PAKAI MASKER (1-3 TH)

APA KABAR PANDEMI HARI INI?