SEGELAS SUSU COKLAT

 Ah... lagi-lagi bayar pajak...

Buat seorang ibu pekerja, melihat penghasilan yang dipotong itu rasanya berat sekali. Apalagi ketika melihat catatan tagihan yang menumpuk.

Baru juga dapat rezeki nomplok... masih harus dipotong juga...huft...

Katanya, semakin banyak yang kita terima, semakin banyak juga yang harus kita relakan. Ketika penghasilan kecil, jumlah pajak dan perpuluhan, mungkin tak seberapa. Keikhlasan kita diuji ketika penghasilan semakin besar. Beda sedikit saja, jumlah pajak mungkin akan bertambah 3x lipat. Namanya juga pajak progresif, kadang memang menyakitkan kalau melihat angkanya.

Sudahlah... masih untung ada uangnya...

Sudah, ikhlaskan saja. Lebih baik pergi ke toko kopi terdekat dan beli segelas susu coklat.

Setidaknya, hari ini bisa menghisap rasa manis. Meski di dompet harus merasakan pahit.

Ting!

Sebuah pesan singkat baru saja masuk ke WhatsApp. Ternyata dari sebuah Yayasan Doa yang kuikuti.

“Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa inipun dari tangan Allah. Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia? Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan, tetapi orang berdosa ditugaskan-Nya untuk menghimpun dan menimbun sesuatu yang kemudian harus diberikannya kepada orang yang dikenan Allah. Inipun kesia-siaan dan usaha menjaring angin.” (Pengkhotbah 2: 24-26)


Ya sudah, minum saja segelas susu coklatmu. Ada hal-hal yang memang tidak bisa ditawar dalam hidup. Jalani saja. Dan sisanya... percaya! Hilang sedikit tak akan membuatmu kekurangan.

Seperti yang tertulis di gelas susu coklatku ini: Have a good day!

Komentar